Trifling..

July 23, 2009

“Wir sind gevohnt dass die Menschen verhönen was sie nicht verstehen.”

Goethe

“Kita sudah terbiasa melihat Manusia memandang rendah apa yang tidak bisa dipahaminya.”

Kesombongankah???

….A prudent man foreseeth the evil, and hideth himself; but the simple pass on, and are punished….

Bold As Love Monologue

July 19, 2009

Selagi mendengar salah satu lagu favorit saya yaitu Bold As Love ciptaan dari Jimmy Hendrix yang kemudian dicover oleh John Mayer, saya mencari apa arti dari lagu dari album Continuum tersebut. Tetapi, saya malahan mendapatkan hal lain.

Yang saya dapatkan adalah bagian monolog di tengah-tengah lagu Bold As Love yang dimainkan di konser Where The Light Is. Saya dapatkan dari http://www.dcyoungadults.org/featured/bold-as-love.

Ini isi monolog John Mayer tersebut :

“So check it out, right.

I tried every approach to living, I tried it all. I haven’t tried everything, but I’ve tried every approach. Sometimes you have to try everything to get the approach the same. But…

I tried it all. I bought a bunch of stuff, I went, no, I don’t like that. I kind of came in and out of that a couple of times.

Thought I would shut myself off. I thought maybe that’s cool, maybe that’s what you have to do to be a genius is you have to be mad. So if you can get mad before the word genius, then maybe you can make genius appear. Right? That doesn’t work either.

I’m in a good place. I’ve paced myself pretty well. I’m thirty, I’ve seen some cool stuff. Made a lot of stuff happen for myself. I made a lot of stuff happen for myself. That’s a really cool sentence when you’re in your twenties, “I made it happen for myself man.”

But all that means is that I’ve just somehow found a way to synthesize love, synthesize soothing… you can’t get that.

And what I’m saying is that I’ve messed with all the approaches except for one. And it’s going to sound really corny, but that’s just love. That’s just love. I’ve done everything in my life that I want to do except just give and feel love for my living.

And I don’t mean like a roman candle, firework, Hollywood, hot pink love. I mean like a “I got your back!” love.

I don’t need to hear I love you. You guys love me, I love you, we got that down.

Some of the people who will tell you they love are some of the people who will be the last just to have your back.

So I’m going to experiment with this love thing. Givin’ love, feelin’ love. I know it sounds really corny, but it’s the last thing I got to check out before I check out.”

17589404-17589407-slarge

Satu fakta tentang liburan saya kali ini: saya telah melahap habis (membaca) sembilan buku.

Berikut buku-bukunya berdasarkan yang saya baca paling awal :

  1. I Kissed Dating Goodbye oleh Joshua Harris
  2. N or M oleh Agatha Christie
  3. The Return of Sherlock Holmes oleh Arthur Conan Doyle
  4. Saman oleh Ayu Utami
  5. Tuhan Maha Tahu Tapi Dia Menunggu oleh Leo Tolstoy
  6. Tuhan dan Hal-Hal Yang Tidak Selesai oleh Goenawan Muhamad
  7. Study in Scarlet oleh Arthur Conan Doyle
  8. Titanium oleh Sitta Karina
  9. Larung oleh Ayu Utami

Disertai dua buku yang saya bali, tetapi belum saya baca yaitu :

  1. And Then There Were None oleh Agatha Christie
  2. The Italian Secretary oleh Caleb Carr

Inilah penyebab krisis ekonomi yang saya alami akhir-akhir ini. Entah kenapa, semangat saya untuk membaca sedang tinggi-tingginya akhir-akhir ini.

Saya mau membahas satu persatu secara singkat buku yang telah dan akan saya baca tersebut.

Yang pertama adalah buku yang saya beli karena rekomendasi teman saya. Berisi tentang pemikiran sang penulis yaitu Joshua Harris yaitu menolak dating yang tidak disertai oleh komitmen. Satu kutipan yang saya suka :

“Sukacita keintiman adalah upah dari komitmen.”

Yang kedua adalah novel tentang kisah pasangan Tommy dan Tuppence yang menyelidiki mata-mata Jerman yang masuk ke Inggris. Mereka berdua dipekerjakan kembali setelah keduanya mengalami kesuntukan pasca masa pensiun mereka.

Yang ketiga adalah novel tentang kumpulan kasus Sherlock Holmes. Sebenarnya buku ini sudah pernah saya baca, dan saya bahkan sudah punya banyak sekali seri novel Sherlock Holmes ini. Tapi akhirnya hanya tersisa satu karena hilang, yang membuat saya memutuskan untuk memulai  membeli lagi semuanya. Dan sialnya, kumpulan kasus yang dijual yang saya temui hanyalah Return of Sherlock Holmes ini. Saya sedang mencari His Last Bow. Ada yang tahu dimana mencarinya?

Yang keempat adalah buku dengan cara penceritaan yang unik, tetapi membuat buku ini menjadi amat menarik untuk dibaca. Walaupun dalam buku ini memang terdapat tokoh yang bernama Saman, tidak membuat buku ini menjadi semakin mudah untuk diikuti alurnya. Akan tetapi buku ini amat menarik bagi saya.

Yang kelima telah saya singgung di tulisan saya yang sebelumnya.

Yang keenam adalah buku yang membuat saya bingung,,hahaha. Walaupun saya telah benar-benar berkonsentrasi, tapi tetapi saja saya tidak bisa mengerti keseluruhan isi buku ini.

Yang ketujuh adalah buku pertama dari seri Sherlock Holmes. Menceritakan pertemuan pertama Sherlock Holmes dengan sobat karibnya yaitu Watson. Serta menceritakan kasus pertama yang ditangani oleh Sherlock Holmes bersama dengan Watson.

Yang kedelapan adalah buku adik saya (saya yang membelikan). Buku ini terpaksa saya baca karena kebetulan saya sedang kehabisan buku baru untuk dibaca saat itu. Buku ini seperti kebanyakan novel remaja pada umumnya dengan tema yang diangkat adalah cinta antara pria kelas atas dan wanita yang tidak suka dengan masyarakat kelas atas. Menurut saya seperti Meteor Garden versi Indonesia.

Yang kesembilan adalah buku kelanjutan dari Saman. Buku ini menghadirkan tokoh baru yang bernama Larung. Dibanding Saman, saya lebih menyukai Larung ini, walaupun masih menggunakan cara penceritaan yang sama.

Dari kesembilan buku ini, yang saya berikan nilai maksimal adalah I Kissed Dating Goodbye dan Larung.

Dua buku yang belum selesai saya baca adalah novel detektif.

Yang pertama katanya adalah salah satu mahakarya Agatha Christie. Sebenarnya saya sudah punya dan sudah membacanya juga. Akan tetapi, nasibnya sama seperti seri Sherlock Holmes saya, sehingga saya memutuskan untuk membeli lagi.

Yang terakhir adalah novel tentang Sherlock Holmes. Saya tertarik membacanya karena Caleb Carr katanya adalah penulis yang diberi permintaan untuk membuat lanjutan cerita tentang Sherlock Holmes setelah Arthur Conan Doyle meninggal.

Kalau dirata-ratakan, buku yang paling banyak saya baca liburan ini adalah buku tentang detektif. Mungkin karena tidak terlalu berat dan tidak perlu terlalu banyak berpikir untuk membacanya (walaupun saya juga mencoba menerka-nerka siapa pelakunya). Dan lagi, saya menyukai cara pengambilan kesimpulan dari tokoh-tokoh di novel detektif (dan Sherlock Holmes adalah yang terbaik menurut saya).

Semoga dua buku terakhir bernasib sama seperti kesembilan pendahulunya – terlahap habis.

Setelah sekian lama membaca dan menyelesaikan Tuhan Maha Tahu Tapi Dia Menunggu, saya bakal mengulas sedikit tentang buku karangan Leo Tolstoy tersebut. Buku ini berisi kumpulan cerita pendek dari Leo Tolstoy termasuk juga Tuhan Maha Tahu Tapi Dia Menunggu.

Buku ini sekilas tidak menarik, tetapi saya membelinya juga karena tergoda dengan nama Leo Tolstoy. Saya tidak tahu tentang buku ini, tapi saya tahu Leo Tolstoy yang mengarang Anna Karenina.

Ternyata di buku yang saya beli hanya sekedar untuk mengisi liburan ini terkandung makna yang mendalam bagi saya. Saya tidak akan banyak menceritakan isi buku ini, karena lebih baik anda membacanya sendiri dan menemukan maknanya bagi diri anda sendiri. Tetapi saya akan menceritakan sedikit saja tentang bagian yang menarik bagi saya.

Dari cerita-cerita yang menarik, ada dua cerita yang meninggalkan banyak makna bagi saya yaitu Tuhan Maha Tahu Tapi Dia Menunggu dan Ziarah.

Tuhan Maha Tahu Tapi Dia Menunggu menceritakan tentang seseorang yang dituduh membunuh teman sekamarnya dan dipenjara cukup lama. Selama masa penjara tersebut dia kehilangan hampir semua yang dia miliki termasuk keluarganya. Tokoh utama di cerita ini bernama Aksenof. Di saat pemenjaraannya, ia berkata dalam hati :

“Hanya Tuhanlah yang tahu kejadian yang sebenarnya, maka kepada Tuhanlah sepantasnya aku memohon ampun, karena Dialah yang sanggup memberi pertolongan.”

Saat membaca itu saya merenung sebentar, mencoba lebih memaknai kalimat tersebut. Saya kagum terhadap Aksenof ini karena bahkan di saat yang mungkin merupakan saat tergelap di dalam hidupnya, dia tidak kehilangan harapannya. Malahan dia memilih tempat untuk berharap yang paling tepat.

Akhir dari cerita ini pun tidak disangka-sangka. Saya menemukan hal yang membuat saya terdiam untuk merenung kembali. Tapi akhir ceritanya tidak akan saya ulas disini, karena lebih menarik untuk anda baca sendiri, hehe, dan juga untuk tidak mengurangi maknanya.

Cerita berikutnya adalah Ziarah. Ada dua tokoh utama yaitu Efim dan Eliyah. Elfim bersifat disiplin termasuk dalam hal keagamaan sementara Eliyah adalah sosok yang lebih santai. Mereka berdua telah lanjut umurnya dan mengidam-idamkan untuk pergi berziarah ke Yerusalem. Akhirnya saat yang dinanti pun tiba dan mereka berangkat kesana. Singkat cerita, Eliyah memutuskan tidak melanjutkan perjalanan tanpa sepengetahuan Efim karena ia menemukan keluarga yang sekarat dan benar-benar membutuhkan pertolongan dia.

Alasan Eliyah untuk tidak melanjutkan perjalanan yang dia idam-idamkan itulah yang membuat saya terenyuh. Dia berpikir dalam hati bahwa tidak ada gunanya dia menyeberang lautan untuk mencari Tuhan jika selama itu dia kehilangan kasih dalam dirinya. Karena itulah dia memutuskan untuk menghentikan perjalanan dan memberikan daya yang dia punya untuk menyelamatkan keluarga yang sekarat tersebut, termasuk uang untuk melanjutkan perjalanan.

Ketidakegoisan Eliyah membuat saya merenung. Dia memilih untuk kehilangan kesempatan berziarah dan beribadah di Yerusalem yang telah dia idam-idamkan dan memilih untuk menyelamatkan orang-orang yang tidak dia kenal sebelumnya dan tidak pernah berbuat baik kepada dia. Wow! Saya berpikir-pikir, apakah saya bisa bertindak seperti dia?

Akhir cerita ini pun memiliki keunikannya tersendiri. Dan seperti yang sebelumnya, saya tidak mengulasnya dan lebih baik anda membacanya sendiri.

Itulah sedikit ulasan saya tentang buku Tuhan Maha Tahu Tapi Dia Menunggu. Buku sederhana tapi bermakna bagi saya. Saya berharap semoga makna yang telah ditorehkan buku tersebut di dalam hati saya tidak hilang begitu saja dan bahkan semoga bisa saya mengaplikasikannya dalam kehidupan saya.

Laziness..

June 30, 2009

Lagi dalam fasa kemalasan menulis akhir-akhir ini, haha.

Setelah fasa ini lewat, saya akan mulai nulis lagi.

Saya juga mungkin akan menulis sedikit tentang buku (kumpulan cerita pendek) yang sedang saya baca untuk liburan ini :

“Tuhan Maha Tahu Tapi Dia Menunggu” dari Leo Tolstoy.

Sejauh ini saya dibuat tertarik oleh buku itu, haha.

Cabut dulu..

Proverbs 31

May 11, 2009

Sedikit kutipannya..

“Who can find a virtuous woman? for her price is far above rubies.

The heart of her husband doth safely trust in her, so that he shall have no need of spoil.

She will do him good and not evil all the days of her life.

……

……

Favour is deceitful, and beauty is vain: but a woman that feareth the LORD, she shall be praised.”

Karena rasa penasaran gagal melihat sunrise di Tangkuban, saya dan teman-teman merencanakan untuk membalas dendam dengan mendaki gunung lagi. Kali ini, gunung yang menjadi tujuan kami adalah gunung Manglayang yang berada di daerah Jatinangor.

Pendakian kali ini juga meninggalkan kesan yang sangat mendalam bagi saya….

Akhirnya hari yang dinanti pun tiba. Tanggal 25 April 2009. Akan tetapi, karena satu dan lain hal, yang naik berkurang menjadi tujuh orang saja, yaitu Saya, Octa, Dwi, David, Ruth, Kiki dan Ferry. Kami berkumpul terlebih dahulu di perpustakaan pusat ITB jam 1 siang lalu makan bersama. Kemudian dengan menaiki Damri, sampailah kami di Jatinangor.

Sesampai ke Jatinangor, kami agak bingung juga gimana cara untuk ke kaki Manglayang, karena sebelumnya tidak survei. Setelah nanya-nanya, jadilah kami naik ojek ke kaki gunung Manglayang dengan membayar 12 ribu rupiah.

Perjalanan naik ojek ke kaki gunung itu pun mempunyai cerita sendiri. Ternyata medan untuk mencapai kaki gunung itu tidak bersahabat, jalannya rusak dan berbatu-batu. David jatuh dari ojek. Yang lain harus mengganti posisi menaruh tas dari punggung ke perut. Dwi ketakutan dan meminta agar ojek saya tetap di belakang dia. Dan……,ojek yang dinaiki Kiki tidak sanggup untuk naik ke kaki gunung, sehingga dia menelepon kami dan minta dijemput dengan ojek lain. Pelajaran dari sini, ternyata lebih aman apabila kami mencarter angkot daripada naik ojek.

Setelah semua cerita, sampailah kami ke kaki gunung. Lalu Dwi dan Ruth membeli nasi untuk bekal kami disana. Semua persiapan telah dijalani, logistik telah dilengkapi, yang tersisa hanyalah kesiapan hati. Setelah berdoa bersama, kami sudah siap untuk berangkat.

Jalur pendakian Manglayang ada dua, jalur satu adalah jalur yang agak curam, tetapi cepat, dan jalur kedua adalah jalur yang lebih landai tetapi lebih lama untuk sampai ke Puncak. Setelah bertanya-tanya ke warga sekitar, diputuskan kalau kami akan mendaki lewat jalur pertama yang agak curam. Sebelum mendaki, kami bertanya ke warga, berapa lama kira-kira untuk sampai ke puncak. Ternyata, hanya butuh waktu sekitar dua jam untuk sampai ke Puncak. Sontak, hal ini membuat kami tertawa. Karena kami menganggap dua jam perjalanan itu hanya “geli-geli di kaki” saja karena ini adalah waktu pendakian yang terpendek yang kami jalani. Ditambah fakta bahwa kemampuan fisik kami telah meningkat karena persiapan olahraga yang kami lakukan sebelumnya. Bahkan kami bercanda, gimana kalau kami meninggalkan bawaan di bawah, lalu kalau ingin makan turun lagi ke bawah untuk mengambil bawaan kami.

Dan saya pun amat menganggap remeh karena saya sangat yakin dengan kekuatan fisik saya…

Saya ditunjuk untuk memimpin perjalanan dan mencari jalan. Setelah saya berdoa secara pribadi, mulailah saya memimpin perjalanan. Dalam mencari jalan, beberapa hal yang saya jadikan patokan adalah:

  1. Melihat sarang laba-laba. Karena, kalau ada sarang laba-laba yang besar, itu tandanya jalan tersebut tidak pernah/jarang dilalui.
  2. Melihat apakah ada undakan-undakan untuk jalur atau tidak. Manglayang adalah gunung yang sudah sering didaki sehingga pasti ada undakan untuk jalur.
  3. Jalurnya harus mengarah ke atas.

Lalu, mulailah kami berjalan. Ternyata, jalur pendakian pertama ini memiliki banyak persimpangan. Lalu, saya pun mencatat di handphone saya setiap persimpangan yang kami lalui dan tanda-tanda persimpangan tersebut.

Ada sensasi tersendiri yang saya dapatkan sebagai pembuka jalan. Karena jalur pendakian yang curam, Octa, David, Kiki dan Ferry pun membantu Dwi dan Ruth untuk mendaki, sehingga menyebabkan mereka semua tertinggal agak jauh di belakang saya. Saya sendirian membuka jalan di depan. Terkadang ada perasaan takut juga, karena saya sendirian dan saat itu sudah gelap. Tapi, perasaan takut itu selalu bisa saya usir dengan doa dalam hati.

Sampai satu saat, setelah memasuki daerah pepohonan lebat, saya mendengar suara-suara aneh. Suara itu seperti suara harimau sedang menggeram. Waktu mendengar suara geraman itu, saya takut. Tapi saya berpikir dalam hati, apa mungkin ada harimau di Jatinangor? Sepengetahuan saya, tidak ada harimau di Jawa Barat kecuali di kebun binatang. Tapi, saya tetap kuatir. Kuatir akan keselamatan saya dan teman-teman saya, soalnya kalaupun bukan harimau, anjing misalnya, itu tetap berbahaya untuk kami. Saya lalu berdoa lagi agar tetap tenang. Dan saya pun menunggu teman-teman yang lain.

Kembali ke pendakian lagi. Setelah mendaki sekian lama, ternyata jalur yang kami lalui semakin sulit saja. Lama-kelamaan jalur pendakian semakin curam, ditambah dengan tanah yang gembur, sehingga gampang longsor saat didaki. Saya bertanya-tanya, apakah ini jalan yang benar? Tapi, berdasarkan tiga patokan yang saya pegang, saya tetap jalan.

Dan ternyata, medan yang kami lalui semakin lama semakin tidak bersahabat. Amat tidak bersahabat malahan. Kecuraman semakin menjadi-jadi, akar-akaran pun sudah mulai sedikit, sehingga kami harus bergantung kepada kekuatan dan keseimbangan tangan dan kaki kami. Saya harus berakrobat-ria dan sesekali terpeleset. Bahkan, pohon-pohonan dan akar-akaran yang ada kebanyakan mempunyai duri, sehingga tidak mungkin untuk dijadikan pegangan.

Sampai pada satu titik kecuraman sudah mendekati 900, mungkin sekitar 750-800. Dengan kondisi tanah yang gembur, dan tidak adanya pegangan, saya pun tidak bisa mendaki titik tersebut. Saya sudah mencoba sekuat tenaga, merayap, tetapi tetap saja tidak terdaki. Yang terjadi malahan batu-batu kecil dan tanah longsor ke bawah.

Itulah saat dimana saya merasa putus asa. Kekuatan fisik yang saya punya ternyata tidak sanggup untuk membawa saya bisa mendaki titik tersebut. Saya benar-benar merasa direndahkan. Saat itu juga, saya kehilangan semangat untuk melanjutkan pendakian. Saya pun berhenti mencoba mendaki titik tersebut dan menunggu yang lain.

Setelah Octa mendekati saya, dia ternyata juga sedang mengalami kesulitan di satu tempat. Mungkin kerena dia membawa carrier yang lumayan berat. Saya pun berganti tas dengan dia agar dia bisa naik. Lalu, dengan membuang segala ego yang saya punya, karena saya tahu saya tak bisa mendaki titik tersebut, saya pun menyuruh Octa untuk berganti posisi dengan saya dan menaiki titik tersebut dengan harapan dia bisa membantu saya naik. Ketika dia naik, ternyata terjadi longsor. Bahkan, ada batu yang lumayan besar yang jatuh dan akhirnya mengenai lutut Dwi. Batu tersebut juga hampir mengenai kepala Ferry, untung saja ada kayu pas di atas kepala dia, sehingga batu tersebut berubah jalur.

Melihat situasi ini, Kiki sebagai ketua perjalanan, memutuskan agar kami turun saja dan mencoba naik melalui jalur yang kedua. Lalu kami pun turun…….dengan cara yang agak aneh yaitu merosot. Saat perjalanan turun, Dwi menangis. Lalu untuk mengembalikan semangat kami, Kiki mengajak kami untuk berdoa lagi.

Dalam perjalanan turun, satu hal yang saya syukuri, saya mencatat semua persimpangan di jalur pendakian, sehingga tidak bingung mencari jalan turun dan tidak tersesat.

Tapi, dalam perjalanan turun, dekat dengan kaki gunung, saya tergelincir dan kaki kiri saya keseleo. Amat konyol. Gara-gara itu, kami membatalkan niat untuk mendaki puncak melalui jalur kedua dan berkemah di kaki saja.

Kami gagal menaklukkan Manglayang…..

Kami gagal melihat sunrise…..

Akan tetapi, sekarang saya menyadari adanya berkat yang saya dapatkan melalui kegagalan ini. Kebersamaan dan pembelajaran.

Saat berkemah di kaki gunung, saya sangat menikmati kebersamaan kami. Mulai dari makan bersama (dengan tangan yang penuh lumpur) yang walaupun sederhana tetapi terasa sangat lezat, sharing, melihat bintang dan city light, ‘perang’, dan saat teduh bersama paginya. Priceless. Saya bersyukur bisa menikmati kebersamaan tersebut dan mengatasi rasa kesal akibat kegagalan mencapai puncak.

Saya pun mendapatkan pembelajaran yang tidak mungkin dapat saya lupakan..

Saya tidak mungkin bisa melupakan rasa putus asa yang saya alami saat di atas. Saya adalah orang yang optimis dan percaya diri dengan kemampuan saya. Bahkan terkadang kelewat percaya diri yang menjurus ke sombong. Saya bersyukur saya diberikan kegagalan ini sehingga saya bisa semakin mengandalkan Dia. Saya bersyukur saya telah direndahkan agar saya selalu ingat ada yang lebih tinggi dari saya. Ternyata yang saya butuhkan bukanlah fisik yang kuat, bukanlah otak yang cemerlang, dll. Yang saya perlukan adalah Tuhan. Semuanya adalah sia-sia kalau saya tidak mengandalkan Tuhan di dalam hidup saya. Terimakasih Tuhan untuk perjalanan dan pembelajaran ini.

Manglayang, kamu mungkin bisa menaklukkan fisik saya..

Tapi, kamu gak bisa menaklukkan semangat saya..

Gak akan pernah bisa..

NB :Temen-temen, makasih yah buat perjalanan ini. Lain kali kita taklukkan Manglayang (dengan formasi yang lebih lengkap dan mengurangi sifat ‘sok jago’, hehe..)

But seek ye first the kingdom of God, and his righteousness; and all these things shall be added unto you.”

Living in pressure..

April 5, 2009

Ada satu fakta unik yang saya dapatkan di kuliah Mekanika Fluida hari ini. Pelajaran itu mengajarkan tentang tekanan (p). Fakta unik yang saya dapatkan adalah mengenai tekanan di bumi. Selama ini mungkin kita mengetahui berapa tekanan bumi yaitu 1 atm (atmosphere). Akan tetapi tahukah kita seberapa besar 1 atm itu? Akan saya coba jelaskan.

Tekanan 1 atm adalah sebesar 1,0133 x 105 Pa (Pascal) atau bisa kita dekati sebesar 1 x 105 Pa. Sesuai rumus tekanan di fluida,

P = ρ.g.h + p0

Dimana ρ adalah massa jenis fluida, g adalah gravitasi bumi, h adalah kedalaman fluida dan P0 adalah tekanan atmosfir yaitu sebesar 1 atm.

Coba kita masukkan nilai ρ dengan fluida air yaitu 1000 kg/m3 , lalu g adalah gravitasi bumi yaitu sekitar 9,81 m/s2 yang dapat kita dekati dengan 10 m/s2 dan terakhir memasukkan h yaitu 10 m. Kita akan mendapatkan nilai 105 (kg.m2)/(m3.s2) atau 105 (kg.m/s2)/m2 atau 105 N/m2.

Nilai 105 N/m2 adalah setara dengan 105 Pa. Apabila kita memasukkan nilai P0 adalah sebesar 105 Pa, maka kita mendapatkan :

P = (105 + 105) Pa = 2 x 105 Pa

Lalu, dengan memakai kesetaraan 1 atm = 105 Pa, kita dapatkan :

P = 2 atm

Ya, inilah fakta menarik yang saya dapatkan di kuliah tadi. Ternyata tekanan 2 atm itu kira-kira sebesar tekanan yang kita dapatkan apabila kita menyelam sejauh 10 meter di dalam air. Dengan gambaran tersebut, kita sudah bisa membayangkan bukan kira-kira sebesar apa 1 atm itu? Ternyata tekanan 1 atm itu cukup besar.

Mengetahui fakta itu, saya lalu berpikir sejenak. Ternyata kita selama ini hidup di bawah tekanan yang besar. Mungkin itu salah satu alasan kenapa ketika bayi baru lahir mereka menangis. Mereka terkejut dengan tekanan yang besar itu. Kesimpulan pertama, manusia memang hidup dengan tekanan.

Hidup ini memang penuh dengan tekanan. Bahkan selalu. Mungkin tekanan bukan hanya dalam fisik, tetapi tekanan dalam batin juga seperti kegagalan atau apapun itu. Bahkan mungkin ketika kita berada dalam zona nyaman, kita mengalami tekanan juga. Sesuai dengan pelajaran Mekanika Fluida tadi bukan? Kita memang selalu hidup dalam tekanan. Setiap saat dalam hidup kita di bum ini, kita selalu mendapatkan tekanan.

Apakah kita menyerah kepada tekanan itu? Tentu tidak, bukan? Kita mungkin terlahir di bawah tekanan yang besar, tetapi kita berhasil melewatinya bukan? Kita bahkan bisa hidup dengan tekanan besar itu tanpa menyadarinya. Kita berhasil terbiasa dengan tekanan yang besar itu. Ya, kita adalah manusia kuat yang berhasil mengalahkan tekanan. Anda sadar atau tidak, anda adalah manusia yang kuat. Kesimpulan saya berikutnya, manusia hidup untuk mengalahkan tekanan.

Hidup kita adalah hidup yang selalu ditekan. Tidak ada manusia yang tidak pernah mengalami tekanan. Tetapi, bersyukurlah, kita dikaruniai kekuatan, kekuatan untuk bisa menang atas setiap tekanan. Karena itu, jangan pernah kalah oleh tekanan. Kita pasti bisa mengalahkan tekanan itu. Karena kita terlahir untuk menang. Karena kita adalah pemenang.

Just let go…

March 21, 2009

07032009365

Foto di atas diambil pada hari Sabtu 7 Maret 2009 di gunung Tangkuban Perahu. Saya pergi kesana bersama dengan teman-teman saya dari Navigator ‘05 dengan susunan 5 pria dan 4 wanita (Octa, Dwi, saya, Sarah, Kiki, Laura, Ferry, Becca, dan David) untuk pengakraban dan persiapan mendaki gunung yang lebih tinggi lagi.

Kebetulan diantara semua foto-foto yang ada, saya menemukan satu foto yang menakjubkan ini. Lautan awan putih dihiasi kilau mentari pagi. Indah. Suatu pemandangan yang tidak bisa kita temui setiap harinya. Cahaya merah yang menari-nari lincah di atas hamparan awan yang membuat saya mengagumi karya Yang Maha Kuasa. Walaupun bukan yang pertama kalinya, tetapi tetap saja saya dibuat kagum, tetap saja saya dibuat tak habis pikir akan keagungan-Nya.

Ketika melihat foto ini, saya mengingat perjalanan yang telah saya lalui untuk mendapatkan itu. Perjalanan selama kurang lebih 5 ½ jam, medan yang cukup berat ditambah bawaan carrier 40 L di badan saya. Belum lagi konflik yang terjadi selama perjalanan. Wow, harga yang tidak murah untuk sebuah pemandangan.

Akan tetapi, ada satu hal yang tidak sesuai dengan rencana kami. Rencana awal kami kesana untuk melihat sunrise. Kami sampai disana tepat waktu, akan tetapi ternyata cuaca gak berawan sehingga kami tidak bisa menyaksikan sunrise dengan sempurna. Untuk saya dan beberapa teman, ini adalah kegagalan kedua kami menyaksikan sunrise.

Hidup kadang berjalan tidak sesuai dengan rencana yang kita buat. Kita sudah berjuang dengan sekuat tenaga, mengerjakan sesuatu sesuai dengan proses atau tahap yang benar, tetapi ternyata hasilnya tidak sesuai dengan yang kita kehendaki. Sama seperti pendakian kami, kami sudah mendaki dengan lelah, semua yang kami jalani sesuai dengan teklap yang telah kami persiapkan sebelumnya. Kami sangat mengharapkan sunrise, karena semua sudah sesuai dengan rencana kami. Ternyata hasil berkata beda.

Yah udahlah. Hidup bakal tetap berjalan kan? Mau kita nangis meraung-raung, mau kita menyesali gagalnya rencana kita, mau kita mencari-cari ini kesalahan siapa, hidup tetap berjalan kan? Waktu tetap berjalan maju kan? Di film Curious Case of Benjamin Button, Benjamin berkata “you can swear and curse fates, but when it comes to the end, you have to let go.”. Kita bisa mengutuk hasil ataupun bahkan menyalahkan Tuhan, tetapi pada akhirnya, kita harus lapang dada menghadapi itu.

Kembali ke perjalanan kami, ada satu hal yang saya lihat dari teman-teman saya ketika mengetahui bahwa kami gagal mendapat sunrise dengan sempurna. Mereka tetap bersyukur atas itu. Tidak ada kata makian dan kekesalan yang keluar, yang ada hanyalah doa dan ucapan syukur. Saya terenyuh, dan saya bersyukur juga kepada Tuhan, karena saya telah diberikan teman seperjalanan yang luar biasa. Proud of you guys.

Ketika semua perjuangan kita menghasilkan rencana yang tidak sesuai dengan rencana kita, apa reaksi kita? Saya berharap, jawaban saya untuk pertanyaan tersebut kapanpun itu ditanyakan kepada saya adalah : saya akan tetap bersyukur. Karena saya tahu, dan saya percaya, rencana-Nya untuk saya adalah rencana damai sejahtera untuk memberikan kepada saya hari depan yang penuh harapan.

Sampai ketemu lagi matahari…

Kelak saya akan datang lagi dan membangunkanmu..

Let it be….

March 13, 2009

Kemaren saya menonton suatu film, gak tau nama filmnya apa. Filmnya itu adalah film musikal, dialog di film itu sebagian besar adalah lagu. Kebetulan ada salah satu lagu yang saya suka di salah satu adegan, yaitu Let It Be dari The Beatles. Saya jadi tertarik untuk mendengar lagu ini kembali. Akhirnya saya pun memutar lagu ini di komputer saya, dan membaca liriknya.

Let It Be dibuat oleh The Beatles, tepatnya Paul McCartney saat mereka sedang di dalam masalah dan terancam bubar. Paul bermimpi bahwa ibunya, Mary, mendatangi dia dan berkata, bahwa semuanya akan baik-baik saja.

“When i find myself in times of trouble

Mother Mary comes to me

Speaking word of wisdom

Let it be..”

Let It Be – The Beatles

Dalam hidup kita, masalah pasti akan selalu ada. Ya, semua manusia pasti pernah, sedang dan akan dirundung masalah. Akan tetapi, bagaimana kita menyikapi masalah yang kita hadapi?

Berusahalah!

Hidup adalah tentang perjuangan bukan? Selayaknya, setiap lembar dari catatan kehidupan kita dipenuhi oleh lembaran-lembaran cerita perjuangan. Adalah hal yang aneh, ketika kembaran kehidupan kita dipenuhi oleh ratapan dan keluhan ketimbang semangat untuk berjuang.

Tetapi, pasti kita pernah mengalami frustasi ketika kita sudah berjuang, tetapi seakan-akan tidak ada jalan. Saya sendiri pernah mengalaminya. Ketika melihat lirik lagu Let It Be, saya mendapatkan satu pelajaran penting lagi dalam menghadapi masalah, yaitu let it be. Let it be disini bukan berarti pasrah, akan tetapi berserah. Ya, berserah…

Berserah berbeda dengan pasrah. Pasrah menurut saya adalah satu kondisi dimana kita hanya menunggu diri kita untuk terbawa oleh suatu keadaan, contohnya saat kita berkata ”udah takdir kok, mau apa lagi.” Sedangkan berserah adalah suatu keadaan dimana kita sudah melakukan yang terbaik yang kita bisa. Berserah mengandung suatu pengharapan, pengharapan akan keadaan yang lebih baik setelah kita melakukan bagian kita, setelah kita berusaha dan berjuang.

Berusaha dan berserah..

Seberat apapun masalah kita, tetaplah berusaha dan berserah. Walaupun seakan perjuangan kita tidak membuahkan jalan keluar, tetaplah berjuang, tetaplah berserah. Berserah kepada Tuhan. Percayalah Dia akan mengerjakan bagian-Nya yaitu rencana kebaikan untuk kita. Masalah-masalah boleh silih berganti datang menghampiri hidup kita, tapi satu yang pasti, Dia selalu memberi jalan keluar dan kekuatan.

“And when the night is cloudy,

There is still a light that shines on me

Shine until tomorrow,

Let it be”

Let It Be – The Beatles

Gelapnya malam pasti akan selalu ada.

Tetapi, mentari pagi pasti datang untuk membuka tabir-tabir kegelapan itu.

Ketika kegelapan datang dan menyelimuti hidup kita, jangan takut!

Berjuanglah tanpa henti…

Dan nantikanlah terang itu datang untuk menyingkapkan kegelapan…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.